Do you remember the good old days of listening to music through cassettes? You know, the ones where you need to roll the tape before listening? This was the case back in the 90s. Entering the 2000s, cassettes were being replaced by the CD and other more hassle-free digital file storage methods.
Who uses cassettes these days? One might wonder.
Muhammad Fajrintio, known as Pemuda Sinarmas, or Ajis, is a CJ coming from Jakarta, Indonesia. What is a CJ?
Image by Australian National Library
If you haven’t been living under a rock for the past century, you should know what a DJ is. These individuals mostly play Electronic Dance Music (EDM), mixing electronic music using discs. Using different tools, a Cassette Jockey (CJ) utilizes cassettes of the olden days.
This musical breakthrough becomes an alternative for music enthusiasts, as today in Indonesia, there are plenty of genres. This method is new and eccentric because of its different use of media. Ajis told us that his main reason for using vintage Javanese poetry was to make his works timeless.
“Because I want to know more about the music in that era, which was varied and still sounds good to the ears in this digital era. Additionally, my music collection is mainly pre-2002. Haha,” said Ajis.
Indonesian music showed its true colors in the 1980s. There are a variety of genres, ranging from traditional, jaipong, to keroncong. Not all of them got to be archived in digital form.
As it still relies on manual process, arranging music using cassettes is a challenge. To create a song, data is transferred from an analog cassette to a digital platform. Music first goes through Digital Audio Workstation (DAW), then transferred back to cassette format.
The life of a cassette jockey has its ups and downs, however the main challenge is the availability of the tools, as they are no longer being produced. Moreover, Pemuda Sinarmas arranges songs mostly using cassettes made before the 2000s. A CJ needs to be patient and thorough when upgrading equipment or when looking for spare parts.
The other challenge is to preserve cassettes and save them from extinction, especially since Indonesian music cassettes are quite an important asset. Fortunately, the arrival of musicians like Pemuda Sinarmas helps introduce cassettes and Walkmans to the young generation. Ajis also proved that the quality of music cassettes can still stand toe to toe with mainstream music arrangements.
Image by Immo Wegmann
Indonesian:
Ingatkah kalian masa-masa mendengarkan musik melalui kaset kotak dengan gulungan pita, yang mengharuskan kalian memutarkan pitanya sebelum mendengarkan? Di Era 90-an, cara klasik ini masih banyak dipakai, namun memasuki tahun 2000, kaset perlahan mulai hilang dan digantikan dengan CD dan media penyimpanan lain yang bersifat digital dan praktis.
Apakah di antara kalian masih ada yang menggunakan kaset kaset di era ini? Beberapa dari kalian mungkin mempunyai pernyataan yang sama seperti di atas.
Muhammad Fajrintio, dengan nama panggung Pemuda Sinarmas, atau biasa dipanggil Ajis, adalah seorang CJ asal Jakarta, Indonesia. Apa itu “CJ”?
Mungkin kalian sudah kenal dengan istilah Disk Jockey (DJ) dengan aliran Electronic Dance Music (EDM), yaitu penggabungan musik elektronik dengan piringan sebagai alat utamanya. Sementara, kalau ini berbeda. Dari peralatan yang digunakan pun juga berbeda, yaitu adalah Cassette Jockey (CJ), menggunakan kaset pita jadul zaman orang tua kita dulu, dan pastinya bakal buat kalian santai sama tembang yang dibawakan.
Terobosan baru ini dapat menjadi alternatif para pendengar musik, karena saat ini di Indonesia, banyak sekali aliran musik yang ada, tetapi jenis musik ini baru dan unik, karena penggunaan media yang berbeda dari biasanya. Ajis berkata bahwa alasan pertama dia menggunakan tembang lawas adalah supaya karya-karya lagunya dapat dikenang sepanjang masa.
“Karena gue ingin mengenalkan musik-musik era dulu yang sungguh beragam dan masih nyaman juga kok di telinga yang serba digital ini. Selain itu, emang koleksi gue kebanyakan rilisan tahun 2002 ke bawah semuanya. Haha,” ucap Ajis.
Kekayaan musik Indonesia bisa telaah pada tahun 1980-an. Tipe musiknya pun amat luas, mulai dari tradisional, jaipong, sampai keroncong. Lantas, dari sekian banyaknya jenis musik di Indonesia, tidak semuanya terarsipkan dalam media rekam elektronik.
Karena masih menggunakan proses manual, aransemen musik dengan kaset sangatlah menantang. Untuk membuat lagu, data harus ditransfer dari kaset analog ke platform digital. Pengolahan musik dilakukan melalui software Digital Audio Workstation (DAW), sebelum akhirnya dikembalikan dalam format kaset.
Menekuni dunia cassette jockey bisa dibilang mudah dan sulit. Tantangan utamanya merupakan kurangnya ketersediaan alat-alat yang digunakan. Alat-alat tersebut sudah tidak diproduksi. Lalu, Pemuda Sinarmas banyak mengaransemen lagu dengan kaset yang diproduksi sebelum tahun 2000-an. Seorang CJ harus sabar dan teliti ketika ingin upgrade alat atau mencari suku cadang.
Tantangan lainnya adalah bagaimana melestarikan kaset agar tidak sepenuhnya punah, khususnya kaset musik Indonesia yang merupakan aset budaya yang cukup penting. Untungnya, kehadiran musisi-musisi seperti Pemuda Sinarmas membuat semakin banyak anak-anak muda familiar dengan kaset atau walkman. Ajis juga membuktikan bahwa kualitas musik kaset masih bisa bersaing dengan aransemen musik mainstream.